Showing posts with label Flora Fauna. Show all posts
Showing posts with label Flora Fauna. Show all posts

Harimau Jawa Diyakini Masih Ada

1/25/2014 Add Comment

Diklaim punah, pakar meyakini harimau jawa akan ditemukan kembali. Inilah catatan penelusurannya.



“Kami masih meyakini Harimau Jawa belum punah, dan 2014 ini adalah tahun resolusi semoga bisa terbukti bahwa harimau Jawa masih ada.”

Semangat inilah yang memantik sejumlah peneliti, akademisi, bersama dinas terkait yang masih meyakini keberadaan harimau Jawa di tanah asalnya, dalam sebuah kegiatan bernama “Sarasehan Harimau Jawa 2013” yang diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Meru Betiri (BTNMB).

Pembahasan terfokus pada karnivora besar endemik hutan Jawa yang sudah diklaim punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) yaitu harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan akhir kegiatan ini menghasilkan rekomendasi bahwa harimau Jawa masih diyakini masih ada alias belum punah.

Menurut Wahyu Giri Prasetya, peneliti harimau jawa, harimau loreng (jawa) tergolong karnivora besar dengan sebaran geografis sangat luas. Membentang dari lembah Tigris di Siberia hingga di Rusia Timur, lalu di India kecuali Sri Lanka, kemudian di Indocina dan semenanjung Malaya—hingga di kepulauan Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Bali.

Satwa ini dianggap berasal dari lembah Tigris kemudian menyebar hingga ke Bali melewati rentang waktu ribuan tahun. Adanya perubahan tinggi permukaan air laut dan fragmentasi antarpopulasi, menjadikan spesies harimau loreng dikenal dengan 8 subspesies. Saat ini tiga subspesies, yaitu harimau kaspia, harimau bali dan harimau jawa sudah dianggap punah.

Wahyu Giri Prasetya dalam presentasinya memaparkan bahwa harimau jawa belum bisa dikatakan punah. Dalam materinya fakta temuan selain dari foto masih ditemukan. Laporan pembunuhan dan sisa pembunuhan masih terus didapat.

Selain itu, metode pemantauan konvensional ada banyak kelemahan. Contohnya, pemasangan kamera di TN Meru Betiri masih dalam jumlah yang terbatas sekali, dan tidak dilakukan penelitian dalam 2 kali siklus umur secara terus menerus, dan juga lokasi penelitian yang ada masih terbatas di Meru Betiri.

Pada tahun 1974, penelitian Seidensticker dan Sujono di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jawa Timur memperkirakan Harimau Jawa tinggal 3-4 ekor. Berikutnya riset WWF di tempat yang sama tahun 1994, ternyata melaporkan hasil nihil. Kamera jebak sistem injak yang dipasang tidak memotret satu pun sosok harimau jawa. Selama ini TNMB terlanjur ditetapkan menjadi habitat terakhir harimau jawa. Sehingga, kesimpulan punah muncul. Pada Desember 1996, CITES memutuskan vonis punah.

Jika mengacu pada Steidensticker & Soejono, yang menyatakan punah pada tahun 1976 di Suaka Margasatwa Meru Betiri. Dengan usia harimau berkisar 25 tahun dikalikan dua umur rata-rata, maka harimau jawa baru bisa dikatakan punah pada tahun 2026. “Jadi terlalu dini dan tak kuat dasar pernyataan punah bagi harimau Jawa,” kata Wahyu Giri.

Ia menambahkan bahwa info juga yang sering salah kaprah, bahwa WWF seolah memasang 20 kamera, tetapi sebenarnya hanya memasang sepuluh kamera yang dipasang dalam dua periode.

Untuk melawan pernyataan punah dari IUCN memang tidaklah mudah. Saat ini memang bukan era jejak, tapi era foto.

Didik Raharyono yang juga peneliti harimau Jawa dan penulis buku Berkawasan Harimau bersama Alam kepada Mongabay-Indonesia memaparkan perkara kepunahan harimau jawa ternyata bukan soal sepele. Selama ini antara “masyarakat ilmiah” dan masyarakat sekitar hutan terjadi perdebatan.



Panthera tigris sondaica. (Foto: Andries Hoogerwerf)

Para ahli menyatakan harimau Jawa telah punah, menyusul saudara dekatnya, harimau bali (Panthera tigris balica). Dasarnya adalah berbagai penelitian yang dilakukan tidak pernah lagi menemukan sosok wujudnya.

Dalam artikel yang ditulis Didik Raharyono berjudul “Sejarah Penyelamatan Harimau Jawa Dan Masa Depannya di Meru Betiri” dijelaskan bahwa harimau loreng hampir mendiami seluruh Pulau Jawa yang berselimutkan hutan tropis lembap. Hanya saja setelah kebijakan tanam paksa dari kolonial Belanda, merombak hutan tropis dataran rendah —habitat ideal bagi harimau loreng— menjadi perkebunan tebu dan jati, terjadi konflik dengan satwa liar.

Di tahun 1971 Hoogerwerf meneliti SM Meru Betiri menggunakan metode pengamatan lapangan dan menyatakan masih eksisnya harimau Jawa di kawasan ini. Lalu Steidensticker mempertajam penelitian guna penguatan status konservasinya di tahun 1976 menggunakan metode amatan lapang. Berikut penelitian oleh Silva IPB tahun 1987 yang juga masih mencatat temuan cakaran, feses, serta jejak harimau loreng dengan metode amatan lapang.

(Tommy Apriando/Mongabay Indonesia)

Komodo Dragon

10/05/2013 Add Comment
The Komodo dragon (Varanus komodoensis) is a large species of lizard found in the Indonesian islands of Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang and Gili Dasami. A member of the monitor lizard family (Varanidae), it is the largest living species of lizard, growing to a maximum of length 3 metres (9.8 ft) in rare cases and weighing up to around 70 kilograms (150 lb). Their unusual size has been attributed to island gigantism, since there are no other carnivorous animals to fill the niche on the islands where they live.

However, recent research suggests that the large size of komodo dragons may be better understood as representative of a relict population of very large varanid lizards that once lived across Indonesia and Australia, most of which, along with other megafauna, died out after the Pleistocene. Fossils very similar to V. komodoensis have been found in Australia dating to greater than 3.8 million years ago, and its body size remained stable on Flores, one of the handful of Indonesian islands where it is currently found, over the last 900,000 years, "a time marked by major faunal turnovers, extinction of the island's megafauna, and the arrival of early hominids by 880 ka." and scientists believe they share an ancestry with the cretacious period man eating predator.

As a result of their size, these lizards dominate the ecosystems in which they live. Komodo dragons hunt and ambush prey including invertebrates, birds, and mammals. Their group behaviour in hunting is exceptional in the reptile world. The diet of big Komodo dragons mainly consists of deer, though they also eat considerable amounts of carrion.

Mating begins between May and August, and the eggs are laid in September. About twenty eggs are deposited in abandoned megapode nests or in a self-dug nesting hole. The eggs are incubated for seven to eight months, hatching in April, when insects are most plentiful. Young Komodo dragons are vulnerable and therefore dwell in trees, safe from predators and cannibalistic adults. They take about eight to nine years to mature, and are estimated to live for up to 30 years.

Komodo dragons were first recorded by Western scientists in 1910. Their large size and fearsome reputation make them popular zoo exhibits. In the wild their range has contracted due to human activities and they are listed as vulnerable by the IUCN. They are protected under Indonesian law, and a national park, Komodo National Park, was founded to aid protection efforts.

Pesona Burung Cendrawasih Keindahan yang Menakjubkan

10/04/2013 Add Comment


Burung Cendrawasih adalah burung asal Papua. Burung cenderawasih, terutama yang jantan, memiliki bulu-bulu indah layaknya bidadari turun dari surga. Oleh karena itulah burung cenderawasih disebut sebagai burung surga atau bird of paradise.



Selain dapat ditemui di Papua, burung cenderawasih juga dapat ditemui di negara tetangga kita yaitu Papua Nugini dan Australia. Nah, berikut ini adalah beberapa spesies burung cenderawasih yang terkenal karena kecantikannya :



1. Burung Cendrawasih Kuning Kecil (Lesser bird of paradise)






Burung cendrawasih jenis ini merupakan burung serukuran sedang dengan panjang sekitar 32 cm. Bulu-bulunya berwarna kombinasi merah-cokelat dengan mahkota berwarna kuning dan punggung atas berwarna kuning kecokelatan.


Burung jannya memiliki tenggorokan berwarna hijau tua, dan sepasang ekor panjang yang dihiasi bulu-bulu tebal berwarna kuning dan putih. Sedangkan burung betina memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan dengan burung jantan, kepalanya berwarna cokelat tua, badannya berwarna putih dan tidak memiliki bulu-bulu hias.


Daerah penyebaran burung cenderawasih jenis ini adalah meliputi seluruh hutan di bagian utara Papua Nugini dan pulau-pulau disekitarnya seperti Pulau Misool dan Yapen.



2. Astrapia Ribbon Tailed




Burung Cendrawasih jenis ini memiliki bulu ekor yang sangat panjang yang melebihi panjang tubuhnya. Bahkan panjang ekornya bisa sampai 3 kali panjang tubuhnya. Panjang burung jantan sekitar 32 cm, dengan ekor berbentuk pita warna putih yang panjangnya mencapai 1 m. Sedangkan betinanya, memiliki ekor yang agak pendek dengan warna cokelat. Burung cenderawasih jenis ini dapat ditemui di hutan hujan tropis di bagian tengah Pulau Papua.



3. Cendrawasih Biru (Blue Bird of Paradise)




Burung ini memiliki panjang sekitar 30 cm, berbadan hitam, mata cokelat gelap dan kaki berwarna abu-abu. Burung jantan dihiasi bulu-bulu sayap yang didominasi warna ungu-biru. Burung ini merupakan burung khas Papua Nugini. Daerah penyebarannya adalah di Hutan-hutan di Papua Nugini bagian Timur dan Tenggara. Umumnya mereka tinggal di ketinggian 1400- 1800 m di atas permukaan laut.


Cenderawasih biru memiliki ritual tarian unik saat musim kawin. Untuk menarik pasangannya burung-burung jantan akan menari memaerkan bulu-bulunya yang indah sambil mengeluarkan suara-suara yang menyerupai nyanyian.



4. Paradise Rifflebird




Ciri khas burung ini adalah, burung jantannya memiliki bulu berwarna hitam dengan mahkota berwarna biru kehijauan, kaki hitam, mata cokelat, dan paruh berwarna kuning. Burung cenderawasih jenis ini dapat ditemukan di hutan New South Wales dan Queendslans di Australia.


Keindahan burung ini terlihat pada saat burung jantan mengembangkan sayapnya menyerupai kipas dan bergerak kekana dan kekiri seperti menari untuk menarik si betina.



5. Cendrawasih Merah (Red Bird of Paradise)




Panjang burung ini sekitar 33 cm. Burung ini memiliki bulu berwarna kuning dan cokelat serta memiliki paruh berwarna kuning. Burung jantan dewasa memiliki bulu-bulu berwarna merah darah dengan ujung berwarna putih. Di bagian ekornya terdapat dua buah bulu melingkar berwarna hitam. Sedangkan burung betinanya berukuran lebih kecil dari si jantan, serta tidak memiliki bulu-bulu hiasan.


Burung cenderawasih merah hanya dapat ditemukan di hutan-hutan dataran rendah di Pulau Waigeo dan Batanta, kabupaten Raja Ampat, Papua.



6. Cenderawasih Panji (King Saxony bird of paradise)




Burung ini merupakan jenis burung kicau berukuran kecil dengan panjang sekitar 22 cm. Burung jantan dewasa memiliki bulu hitam dan kuning tua, di kepalanya terdapat dua helai bulu kawat bersisik berwarna biru-muda mengkilat dengan panjang mencapai 40 cm. Bulu panjang ini dapat berdiri tegak ketika melihat burung betina. Sedangkan burung betinanya memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil serta tidak memiliki antena.


Daerah penyebaran burung cenderawasih panji ini meliputi hutan-hutan pegunungan di Papua.




Indahnya Bunga Abadi Edelweis

10/04/2013 Add Comment
Bunga abadi sebenarnya selama ini identik dengan satu nama yang mungkin asing bagi sebagian orang, yakni Anaphalis Javanica, tetapi bagaimana jika disebut Edelweis? Tentu hampir semua orang, khususnya para penggiat alam bebas pendakian gunung mengenal si bunga abadi Edelweis Anaphalis Javanica atau Edelweis Jawa. Saat pertama kali melihat bunga ini, terasa unik dengan bunga yang kecil – kecil, cantik dan tak pernah layu.
           
                
       
Edelweiss (Leontopodium alpinum), salah satu bunga yang sangat terkenal sebagai “BUNGA GUNUNG EROPA”, sebagai salah satu keluarga BUNGA MATAHARI (Asteraceae).
Nama bunga ini berasal dari GERMAN edel (berarti Mulia-noble) dan weis (berarti Putih – white). Nama Genusnya Leontopodium berarti “LION’S paw” atau CAKAR MACAN, sedangkan LEON dari bahasa YUNANI – leon (lion) and podion ( KAKI, pous, foot).
  • Bunga ini bisa tumbuh mencapai ukuran 3-20cm (dalam perawatan dan pengembangan bisa mencapai 40cm). Daun yang muncul nampak seperti WOOL karena tertutup oleh BULU-BULU yang PUTIH.
  • Bunga ini mekar antara bulan JULI dan SEPTEMBER . Dan uniknya penyebaran bunga ini lebih menyukai daerah berbatu dan berkapur pada ketinggian 2000-2900m.
  • Bunga ini tidak beracun, dan sudah digunakan sebagai obat tradisional untuk melawan penyakit yang berhubungan dengan perut (pembedahan perut) dan penyakit yang berhubungan dengan pernapasan.
  • Bunga ini biasanya tumbuh di lokasi yang tidak terjangkau, yang mana ini banyak terjadi di negara Slovenia dengan pegunungannya . Karena warna PUTIH-nya maka Switzerland menjadikannya sebagai simbol ke-MURNI-an dan ke-CANTIK-an, sehingga bangsa ROMANIA menyebutnya sebagai, floarea reginei (Queen’s flower).
  • Edelweis (kadang ditulis eidelweis) atau Edelweis Jawa (Javanese edelweiss) juga dikenal sebagai Bunga Abadi yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian maksimal 8 m dengan batang mencapai sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m. Tumbuhan yang bunganya sering dianggap sebagai perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian ini sekarang dikategorikan sebagai tanaman langka.
  • Edelwis merupakan perlambang cinta yang penuh ketulusan mengingat tekstur yang halus dan lembut dengan warnanya yang putih (walau ini sebenarnya tergantung kepada habitat di mana ia tumbuh yang menyebabkan warnanya agak kekuning-kuningan, keabu-abuan ataupun kebiru-biruan).
  • Edelweis juga melambangkan pengorbanan. Bunga ini hanya tumbuh di puncak-puncak atau lereng-lereng gunung yang tinggi sehingga untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan yang amat berat. Ditambah lagi dengan adanya larangan membawa pulang bunga ini, pemetik harus main petak umpet dengan petugas Jagawana.
  • Meskipun dipetik bunga ini tidak akan berubah bentuk dan warnanya, selama disimpan di tempat yang kering dengan suhu ruangan. Karenanya, Edelweis adalah bunga keabadian. Bunga yang membuat cinta akan tetap abadi!